Pengetahuan Tradisional Yei
Sangat membantu memahami budaya kami.
Ketua Adat
"
Mungkin, tak banyak khalayak mengenal suku Yei ketimbang suku Marind (Marind-Anim) yang ada di Merauke, Papua Selatan. Bahkan, literatur yang tumbuh dari pengalaman suku Yei pun masih sangat terbatas. Literatur yang tersedia dan sering digunakan untuk menggambarkan suku tersebut berlatar pada masa pra kemerdekaan, era kolonial Belanda (Duff-Cooper, 1983). Sementara literatur pascakolonial masih sangat jarang ditemukan.Dugaan sementara, tersedianya literatur pra kemerdekaan disebabkan atas semangat pengarsipan yang lahir dari kalangan misionaris (Muntaza, 2016).
Kendati demikian, pertumbuhan literatur Yei di masa kolonial Belanda tidak dapat dikesampingkan, sebab merupakan bagian dari upaya menyelidiki karakter etnis dan pengetahuan tradisional yang masih berlangsung hingga saat ini. Sejauh ini, literatur pascakolonial terkait praktik hidup masyarakat adat Yei justru datang dari komunitas asli mereka sendiri yang didukung oleh para pegiat lingkungan yang dilatarbelakangi oleh adanya penolakan masyarakat adat Yei yang menghiasi pemberitaan akhir-akhir ini terkait agenda food estate yang akan mencaplok hutan adat mereka (Simanjuntak et al., 2025).
Masyarakat adat suku Yei (Yei Nan atau Orang Yei) sering juga disebut Yei l’Man’ berarti Mama bagi Orang Yei (BRWA, 2025), merupakan komunitas yang saat ini mendiami wilayah perbatasan Merauke, Papua Selatan dengan Papua Nugini (PNG), terdiri atas 6 (enam) kampung yaitu Kampung Poo, Kampung Erambu, Kampung Toray, Kampung Kweel, Kampung Bupul, dan Kampung Tanas. Beberapa penelitian sebelumnya mengidentifikasi bahwa suku Yei merupakan sub-suku dari suku Marind (Muntaza, 2016). Namun, secara kebudayaan mereka sangat jauh berbeda dari suku Marind (DuffCooper, 1983), (Pegan, 2017), terutama dari segi bahasa. Karena bahasa Yei sangat dekat dengan bahasa Yam atau Marehead-Maro yang ada di Papua Nugini, dibandingkan Marind (Palmer, 2017) yang begitu dominan di Merauke. Sebagai suatu komunitas yang relatif kecil, fokus penelusuran dan eksplorasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) terutama atas berbagai Pengetahuan Tradisional Yei yang ada saat ini agar diangkat ke permukaan, dilestarikan, dan dikembangkan sehingga dapat diwariskan ke generasi Yei berikutnya.
Pengolahan Sagu
- Daun gatal (Laportea sp.) Digunakan untuk mengatasi pegal, nyeri otot, dan masalah kulit dengan cara digosokkan langsung ke bagian tubuh.
- Buah merah (Pandanus conoideus) Kaya antioksidan, dipakai untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah kanker, dan memperbaiki stamina.Sarang semut (Myrmecodia pendans) Direbus untuk mengatasi masalah pencernaan, tumor, dan meningkatkan imunitas.
- Jahe (Zingiber officinale) dipakai sebagai penghangat tubuh, obat batuk, dan meningkatkan sirkulasi darah.
- Kulit kayu susu digunakan sebagai ramuan untuk mengatasi luka dan infeksi.


Tebang pohon sagu ambil empelur (bagian dalam batang). Tokok empelur dicacah jadi serbuk. Peras & cuci serbuk dicampur air, diperas, menghasilkan cairan pati. Endapkan pati mengendap, air dibuang, tersisa tepung sagu. Masak/olah tepung dimasak jadi papeda, kue sagu, atau lempeng sagu.


Provinsi: Papua Selatan, Kabupaten: Merauke, Kecamatan: Ulilin, Elikobel, Jagebob, Sota, Kampung utama: Bupul Indah, Tanas, Kweel, Poo, Erambu, Toray. Luas wilayah adat: ± 694.966 hektare Batas wilayah: Barat: Suku Malind Kumbe dan Malind Mbiyan Anim (Sungai Kumbe, Rawa Sakor) Selatan: Suku Malind Senayu dan Kanum (Sungai Maro), Timur: Suku Boazi di Papua Nugini (Sungai Flay), Utara: Hutan Alam dan Sungai Maro hingga Flay.

